Sabtu, 02 April 2011

FRAKTUR FEMUR


DEFINISI

Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak disekitar tulang akan akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan  pada fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang.

Beberapa istilah yang dapat dipakai untuk menjelaskan fraktur :

a. Sudut Patah
1.      Fraktur tranfersal adalah fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang.
2.      Fraktur oblik adalah fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang.
3.      Fraktur spiral timbul akibat torsi pada extrimitas.
b. Fraktur Multiple Pada Satu Tulang.
  1. Fraktur segmental adalah dua fraktur berdekatan pada satu tulang yang menyebabkan terpisahnya segmen sentral dari suplai darah.
  2. Comunited fraktur adalah serpihan-serpihan atau terputusnya keutuhan jaringan dimana terdapat lebih dari dua fragmen tulang.
c. Fraktur Impikasi
  1. Fraktur kompresi terjadi ketika dua tulang menumbuk tulang ketiga yang berada diantaranya, seperti pada satu vetebra dengan dua vetebra lainnya.
d. Fraktur Patologik
Terjadi pada daerah-daerah tulang yang menjadi lemah oleh karena tumor atau proses patologik lainnya. Tulang seringakali menunjukkan penurunan densitas. Penyebab yang paling sering dari fraktur semacam ini adalah tumor baik primer ataupun tumor metastasis.
e.   Fraktur Beban Lainnya
Fraktur beban terjadi pada orang-orang yang baru saja menambah tingkat aktifitas mereka baru diterima untuk berlatih dalam angkatan bersenjata atau orang-orang yang yang baru  memulai latihan lari.
f. Fraktur Greenstick   
Fraktur tidak sempurna dan sering terjadi pada anak-anak. Kortek tulangnya sebagian masih utuh, demikian juga perioteum. Fraktur ini akan akan segera sembuh dan mengalami remodeling kebentuk dan fungsi normal.
g. Fraktur Avulsi
Memisahkan suatu fragmen tulang pada tempat insersi tendon ataupun ligament. Biasanya tidak ada pengobatan spesifik yang diperlukan. Namun bila diduga akan menyebabkan kecacatan, maka perlu dilakukan pembedahan untuk membuang atau meletakkan kembali fragmen tulang taersebut.
h. Fraktur Sendi
Catatan kusus harus dibuat untuk fraktur yang melibatkan sendi, terutama apabila geometri sendi sendi terganggu secara bermakna jika tidak ditangani dengan cepat dapat menyebabkan osteoatritis pasca trauma progesif pada sendi yang cedera tersebut.

Deskripsi fraktur

Angulasi dan oposisi adalah dua istilah yang sering dipakai untuk menjelaskan fraktur tulang panjang. Derajat dan arah angulasi dari posisi normal suatu tulang panjang dapat menunjukkan derajat keparahan fraktur dan tipe penatalaksanaan yang yang harus diberikan. Angulasi dijelaskan dengan memperkirakan derajat devisiasi fragmen distal dari sumbu longitudinal normal, menunjukkan apeks dari sudut tersebut. Oposisi menunjukkan tingkat tingkat pergerakan fraktur dari permukaan asalnya dan dipakai untuk menjelaskan seberapakah proporsi satu fragmen tulang yang patah menyentuh permukaan tulang fragmen yang lain.
Tingkatan fraktur
Grade I      : sakit jelas, dan sedikit kerusakan kulit
Grade II    : fraktur terbuka dan sedikit keruakan kulit
Grade III   : banyak sekali jejak kerusakan kulit, otot dan jaringan syaraf, pembuluh darah serta luka sebesar 6-8 cm.                    

Fraktur terbuka dan tertutup.

Fraktur tertutup
Fraktur dimana kulit tidak ditembus fragmen tulang, sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan.

Fraktur terbuka
Fraktur dimana kulit dari extrimitas yang terlibat telah di tembus. Konsep penting yang perlu diperhatiakan adalah apakah terjadi kontaminasi oleh lingkungan pada tempat terjadinya fraktur terbuka. Fragmen fraktur dapat menembus kulit pada saat terjadinya cedera, terkontminasi, kenudian kembali hampir pada posisi semula. Pada keadaan semacam ini maka operasi untuk irigasi, debridemen dan pemberian antibiotika secara intravena mungkin diberikan untuk untuk mencegah terjadinya oateomielitis. Pada umumnya operasi irigasi dan debridemen pada fraktur terbuka harus dilakukan dalam waktu 6 jam setelah terjadinya cedera untuk mengurangi terjadinya infeksi.

ETIOLOGI

Fraktur dapat disebabkan oleh |
  • Trauma atau tenaga fisik
  • Tumor (tumor primer ataupun tumor metastase)
  • Dua tulang menumbuk tulang ketiga yang berada diantaranya.
  • Oestoporosis, infeksi atau penyakit lain.


GAMBRAN KLINIS FRAKTUR

  1. Pada tulang traumatic dan cedera jeringan lunak biasanya disertai nyeri. Setelah terjadi patah tulang  terjadi spasme otot yang menambah rasa nyeri. Pada fraktur stress, nyeri biasanya timbul pada saat aktifitas dan hilang pada saat istirahat. Fraktur patologis mungkin tidak disertai nyeri.
  2. Nyeri, bengkak, dan nyeri tekan pada daerah fraktur (tenderness)
  3. Deformitas : perubahan bentuk tulang
  4. Mungkin tampak jelas posisi tulang dan ektrimitas yang tidak alami.
  5. Pembengkakan disekitar fraktur akan menyebabkan proses peradangan.
  6. Hilangnya fungsi anggota badan dan persendian terdekat.
  7. Gerakan abnormal.
  8. Dapat terjadi gangguan sensasi atau rasa kesemutan, yang mengisyaratkan kerusakan syaraf. Denyut nadi dibagian distal fraktur harus utuh dan setara dengan bagian nonfraktur. Hilangnya denyut nadi sebelah distal mungkin mengisyaratkan syok kompartemen.
  9. Krepitasi suara gemeretak akibat pergeseran ujung-ujung patahan tulang satu sama lain.

Tanda-tanda  fratur pasti
  1. Deformitas
  2. Krepitasi
  3. False movement (gerakan yang tak biasa)
  4. Foto roentgen

Tanda-tanda fraktur tak pasti
  1. Odema
  2. Nyeri tekan
  3. Nyeri gerak
  4. Luka

PRINSIP PERTOLONGAN FRAKTUR

  1. Pertolongan pertama.
Kalau terjadi kodisi mengancam jiwa dengan A, B, C
Kalau terjadi perdarahan jangan sampai syok.
  1. Penanganan syok.
  2. Penilaian awal …………pemeriksaan diagnosis.

TUJUAN PENANGAN FRAKTUR

  1. Reposisi
Mengembalikan keposisi semula. Contoh : jika terjadi dislokasi dikembalikan keposisi semula. Patah tulang kurang dari 2 jam reposisi langsung tanpa anastes. Bila lebih 2 jam anastesi GA/local. Bila gagal,  deformitas ringan ….herreposisi, deformitas berat …..operasi.
  1. Imobilisasi/fiksasi
Membuat daerah fraktur tidak bergerak dengan fikisasi. Contoh : gibs, spalk.
  1. Union
Membuat sambungan tulang. Contoh : anak…….sambung 2-3 minggu, dewasa…….sambung 1-1,5 bulan.
  1. Rehabilitasi
Mengembalikan fungsinya.   

MANAGEMEN FRAKTUR TERBUKA
Penanganan  fraktur terbuka :
a.         ATS
b.         Antibiotic IV
c.         Debridement :
1.      Bersihkan kotoran
2.      Buang jaringan mati
3.      Kuret tulang kotor
4.      Irigasi NaCl 10 liter
5.      Jahit situsi
6.      Pasang imobilisasi

PERANGKAT DIAGNOSTIK

  1. Pemeriksaan sinar X dapat membuktikan fraktur tulang.
  2. Scan tulang dapat membuktikan adanya fraktur stress.
  3. arteriogram dialakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
  4. hitung darah lengkap : Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (perdarahan bermakana pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple. Peningkatan jumlah SDP adalah respon stress normal setelah trauma.
  5. kreatinin trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal.

KOMPLIKASI FRAKTUR

  1. Trauma syaraf
  2. Trauma pembuluh darah
Indikasi ischemia post trauma : pain, pulseless, parasthesia, pale, paralise → kompartemen syndrome : kumpulan gejala yang terjadi karena kerusakan akibat trauma dalam jangka waktu 6 jam pertama, kalau tidak di bersihkan maka sampai terjadi nekrose → amputasi.
  1. Koplikasi tulang :
a.         Delayed union : penyatuan tulang lambat
b.         Non unuion (tidak bisa nyambung)
c.         Mal union (salah sambung)
d.        Kekakuan sendi
e.         Nekrosis avaskuler
f.          Osteoarthritis
g.         Reflek simpatik distrofi
  1. Stress pasca trumatik
Dapat timbul embolik lemak setelah patah tulang, terutama tulang panjang

Kamis, 28 Oktober 2010

OBAT ANTIBIOTIK

Bactoprim® Gombi



A.   KOMPOSISI
Setiap 5 ml_ Suspensi Bactoprim Combi mengandung :
·         Sulfamethoxazole                   : 200 mg
·         Trimethoprim                          : 40 mg
Setiap Tablet Bactoprim Combi mengandung :
·         Sulfamethoxazole                   : 400 mg
·         Trimethoprim                          : 80 mg
Setiap Kaplet Bactoprim Combi Forte mengandung :
·         Sulfamethoxazole                   : 800 mg
·         Trimethoprim                          : 160 mg

B.   CARA KERJA OBAT :
Sulfamethoxazole termasuk golongan sulfonamida, bekerja secara kompetitif dengan PABA, dimana PABA dibutuhkan oleh bakteri dalam hidupnya. Dengan adanya sulfonamida, pertumbuhan bakteri dihambat, karena masuknya PABA ke dalam molekul, sehingga pembentukan asam dihidrofolat terhambat. Trimethoprim menghambat tahap berikutnya dari metabolisme asam folat yaitu konversi asam dihidrofolat menjadi asam tetrahidrofolat, dengan jalan menghambat kerja enzim dihidrofolat reduktase.


C.    INDIKASI :
·         Infeksi traktus urinarius seperti pielonefritis dan pielitis oleh kuman yang sensitif (seperti : E. coli, Klebsiela enterobacter dan Proteus mirabilis).
·         Infeksi traktus gastrointestinalis, terutama oleh kuman Salmonella dan Shigella seperti tifoid, paratifoid dan disentri basiler,
·         Infeksi traktus respiratorius seperti bronkitis akut dan kronik oleh kuman H. influenzae atau Streptococcus pneumoniae.
·         Infeksi THT seperti otitis media oleh kuman H. influenzae dan S. pneumoniae.
·         Infeksi lain seperti toksopfasmosis 4an infeksi lainnya dimana obat terpilih tidak dapat diberikan.

D.   KONTRA INDIKASI
Hipersensitivitas terhadap sulfonamida dan Trimethoprim, diskrasias darah, wanita hamil dan menyusui, bayi prematur dan bayi di bawah usia 2 bulan. Penderita megaloblastik anemia karena kekurangan asam folat.
Kegagalan fungsi ginjal yang berat.


E.    EFEK SAMPING
·            Pada dosis yang dianjurkan dapat ditoleransi dengan baik.
·            Mual, muntah, rash kulit, reaksi alergi, urtikaria, penyakit serum, eritema muitiforme dan sindroma Steven Johnson dapat terjadi.
·            Perubahan hematologi dapat terjadi, terutama pada penderita usia lanjut.
·            Glositis, stomatis, anemia, pura-pura.
·            Meningkatkan kadar kreatinin serum.

F.    PERINGATAN DAN PERHATIAN :
·         Pada penderita gangguan lungsi ginjal, dosis dikurangi untuk mencegah akumulasi obat dalam darah.
·         Tes hematologi secara rutin dianjurkan, jika obat diberikan dalam jangka waktu yang lama
·         Jangan digunakan pada keadaan faringitis streptococcus, karena studi klinis banyak menunjukkan bahwa kuman p-hemolitik streptococcus resisten terhadap cotrimoksazol dibanding penisillin
·         Harap minum air banyak, karena resiko kristaluria.
·         Hati-hati pada gangguan faal ginjal, defisiensi folat.
·         Pada defisiensi enzim-enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase : resiko hemolisis.


G.   INTERAKSI OBAT
·         Bila digunakan bersama-sama dengan anti koagulan oral meningkatkan efek anti koagulan oral akibatnya dapat terjadi shock hipoglikemik
·         Memperpanjang waktu paruh dari fenitoin.
·         Sulfamethoxazole dapat menggantikan kedudukan ikatan protein plasma oleh beberapa obat yang bersifat asam termasukfenilbutazon, dikumarol dan asam salisilat.
·         Penggunaan Trimethoprim dan diuretik secara bersamaan dilaporkan terjadi hiponatremia
·         Kombinasi dengan INH dapat mengakibatkan hemolitik anemia akut
·         Adanya metotreksat dapat terjadi efek depresan sumsum tulang.
·         Vitamin C memudahkan ekskresi dari suifonamida, sehingga kemungkinan terjadinya kristaluria diperbesar.
·         Dapat menyebabkan trombositopenia jika digunakan bersama-sama dengan diuretik tiazid.

H.   DOSIS
Diberikan 2 kali sehari (pagi dan sore hari):
·         Dewasa dan anak-anak di atas 12 tahun : 1 kaplet atau 2 tablet atau 4 sendok teh
·         Anak-anak :
6 -12 tahun ; 6 bulan - 6 tahun ; Bayi : 2 - 6 bulan, % kaplet atau 1 tablet atau 2 sendok teh 1 sendok teh V4 sendok teh

I.    KEMASAN
·         BACTOPRIM COMBI Suspensi / Botol @ 50 mL
No. Reg. DKL8304116833A1
·         BACTOPRIM COMBI Tablet/Box, 10 Strip @ 10
No. Reg. DKL8304104410A1
·         BACTOPRIM COMBI  FORTE Kaplet/ Box, 10 Strip @ 10
No. Reg. DKL8304116904A1


HARUS DENGAN RESEP DOKTER SIMPAN DI TEMPAT SEJUK DAN KERING


Diproduksi oleh :
COMBIPHAR
BANDUNG-INDONESIA